Pabrik yang dikelola anak usaha KS, yakni PT Meratus Jaya Iron Steel (MJIS) tersebut direncanakan memproduksi besi spons yang selanjutnya menjadi bahan baku baja pabrik KS di Cilegon.
"Beroperasinya MJIS, merupakan upaya KS dalam melakukan efisiensi, utamanya dalam mengurangi kertegantungan terhadap impor bahan baku baja. Beroperasinya MJIS juga diharapkan mampu memberikan kontribusi penghematan yang signifikan terhadap biaya produksi di PT KS," ujar Corporate Secretary KS Andi Firdaus dalam keterangan tertulis, Rabu (1/5/2013).
Sesuai rencana bisnis perseroan, pabrik MJIS yang 66% sahamnya dikuasai KS dan 34% sahamnya dimiliki PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) tersebut, diharapkan dapat beroperasi normal pada akhir 2013, dengan tingkat produksi sebesar 315 ribu ton per tahun. Sehingga, kebutuhan bahan baku baja KS, yang selama ini sebagian besar masih diimpor, sudah dapat dipasok dari MJIS.
"Bahan baku baja berupa besi spons dari MJIS sangat bermanfaat untuk KS. Perseroan tentunya dapat mengurangi risiko fluktuasi kurs dan keterlambatan pasokan bahan baku jika mengimpor dari luar negeri," ucap Andi.
Menanggapi hal tersebut, Direktur Utama PT Meratus Jaya Iron Steel Anwar Ibrahim optimistis, perusahaannya dapat memenuhi kebutuhan bahan baku baja KS. Terlebih, pada Maret kemarin, MJIS telah melakukan pengiriman pertama besi spons sebanyak 5000 metric ton ke KS.
"Lokasi pabrik MJIS di Batulicin, Kalimantan Selatan telah memenuhi tiga kriteria utama, yaitu ketersediaan kandungan bijih besi, ketersediaan batu bara, dan aksesibilitas transportasi untuk pengiriman produk ke Cilegon," ujar Direktur UtamaMJIS, Anwar Ibrahim.
Menurut Anwar, pabrik MJIS mengolah bijih besi lokal menjadi besi spons sebagai alternatif bahan baku untuk steel making di KS. Selain itu, pabrik ini menggunakan dua jenis bahan bakar, yaitu batubara dan gas alam. Hal itu menurut dia, sebagai solusi alternatif atas kelangkaan bahan bakar gas alam yang selama ini digunakan untuk mereduksi bijih besi.
Pabrik bijih besi MJIS ini yang menggunakan teknologi Rotary Kiln. Teknologi ini sangat fleksibel, yang dapat menggunakan bahan baku bijih besi dengan kandungan besi yang berkadar rendah sekalipun.
"Teknologi pengolahan besi spons yang telah ada selama ini, mengharuskan penggunaan bijih besi dengan kandungan besi tinggi," papar Anwar.
Selain itu, teknologi Rotary Kiln sangat ramah lingkungan, karena gas buang yang dihasilkan dapat dimanfaatkan untuk pembangkit listrik dengan kapasitas 2 x 14 Megawatt. Dengan pemakaian sendiri sebesar 6 MW, maka kelebihan produksi listrik sebesar 20 MW dapat dijual ke PLN.
Sinergi tersebut dapat mengatasi defisit listrik di daerah sekitar pabrik MJIS yang selama ini baru dilayani dengan menyewa genset. Dengan demikian PT PLN dapat menghemat pemakaian solar.
"Dengan demikian, biaya listrik yang dihasilkan oleh pabrik MJIS lebih murah dibandingkan menggunakan sumber pasokan sebelumnya (BBM) dan akan digunakan oleh masyarakat sekitar melalui PLN," kata Anwar.
(ang/dnl)


0 komentar:
Posting Komentar