News Update :

Cari Blog Ini

Tampilkan postingan dengan label Olahraga. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Olahraga. Tampilkan semua postingan

Agar Tidak Gendut, Kalau Makan Burger Harus Olahraga 2 Jam Sehari

Senin, 06 Mei 2013 10.54

BluestarSapphire SpringsMonairSoap NoodlesSportz SoapDream SoapVitamin B6Fondue ChocolateCocoa MixJakarta - Restoran selalu menawarkan menu baru yang menggiurkan. Umumnya setiap jenis makanan yang ditawarkan mengandung kalori tinggi. Bila dibiarkan tertimbun dalam tubuh akan mengakibatkan obesitas. Sebuah penelitianpun meyakini akan dampak buruk ini.

Burger dan hidangan yang digoreng sangat praktis dibuat. Karena alasan praktis inilah tiap restoran memilih keduanya sebagai menu andalan. Ada juga yang menjual porsi jumbo dengan dua lapis daging. Siap-siap saja asupan kalori jadi makin bertambah.

Menurut data dari Dr. Meena Shah dan Ashlei James di Texas Christian University, untuk memotong kalori berlebih dalam tubuh, olahraga secara rutin harus dilakukan agar kalori berlebih yang terserap tubuh dapat terbakar sempurna.

“Kita perlu menyiapkan strategi yang lebih efektif untuk mendorong orang tidak memesan dan mengonsumsi makanan berkalori di restoran. Untuk itu kami melakukan penelitian dengan melibatkan sekelompok responden pria dan wanita usia 18-30 tahun,” imbuh Dr. Meena Shah seperti dikutip Saludify (5/5/2013).

Penelitian yang dilakukan oleh dua Dokter dari Texas ini melibatkan 300 responden pria dan wanita. Dengan tujuan untuk menentukan lamanya jalan cepat yang dibutuhkan agar kalori dalam tubuh terbakar sempurna. Kegiatan olahraga juga dibuat jauh lebih terkesan agar proses pembakaran kalori lebih efektif.

“Proses pembakaran kalori bisa dilakukan dengan olahraga ringan selama satu hingga dua jam dalam sehari setelah makan cheeseburger, seperti jalan cepat atau juga bersepeda. Setelah kalori terbakar, merekapun harus memilih jenis makanan yang lebih tepat,” kata Shah.

Hasil penelitian yang efektif ini ternyata membuat para peserta untuk beralih pada pemilihan menu makanan sehat. Merekapun memesan makanan yang sedikit berbeda, tidak memilih burger, kentang goreng hingga ataupun sup krim.

(odi/dyh)


Sumber Artikel

Meski Terpaksa, Olahraga Tetap Ada Manfaatnya

Senin, 29 April 2013 23.16

Jakarta, Konon berolahraga akan melindungi seseorang dari stres, apalagi jika aktivitas tersebut didasari oleh keinginan dan motivasi tersendiri dari orang yang melakukannya. Namun bagaimana dengan orang-orang yang dipaksa atau terpaksa berolahraga juga akan mendapatkan manfaat dari latihan fisik tersebut?

"Siapapun bisa merasa terpaksa berolahraga, tak peduli ia atlet profesional, tentara atau orang-orang yang diberi resep oleh dokter untuk melakukan serangkaian rejimen olahraga sekalipun. Lalu jika hal ini dipaksakan, apakah masih ada manfaatnya terhadap kesehatan mental?" kata Benjamin Greenwood, seorang asisten profesor dari CU-Boulder's Department of Integrative Physiology.

"Jelas saja jika olahraga yang dipaksakan masih dapat memberikan manfaat fisiologis. Tapi apakah hal ini akan bermanfaat untuk mengatasi gejala kecemasan dan depresi?" tanyanya.

Untuk mencari jawaban dari pertanyaan tersebut, Greenwood dan rekan-rekannya merancang sebuah eksperimen di lab dengan menggunakan sejumlah tikus. Selama enam minggu, beberapa tikus dibiarkan bersantai dan tak melakukan aktivitas apapun, sedangkan sebagian lainnya dipaksa untuk berolahraga dengan roda berputar.

Tikus-tikus yang dipaksa berolahraga sendiri dibagi ke dalam dua kelompok yang berlari dalam kurun waktu yang sama. Satu kelompok dibiarkan berlari kapanpun mereka mau (sukarela), sedangkan kelompok kedua berlari di dalam roda berputar yang telah disetel khusus untuk berputar berdasarkan jadwal tertentu.

Dalam studi ini, roda berputar itu akan menyala dengan kecepatan dan periode waktu yang meniru pola olahraga yang rata-rata dilakukan tikus di kelompok pertama.

Enam minggu kemudian, keseluruhan tikus dipapari sumber stres dalam laboratorium sebelum akhirnya diukur tingkat kecemasannya keesokan harinya. Tingkat kecemasannya diketahui dengan 'membekukan' si tikus.

'Dibekukan' yang dimaksud dalam studi ini adalah tikus diletakkan di dalam sebuah lingkungan dimana mereka dikondisikan untuk merasa takut dan para peneliti baru dapat mengetahui tingkat kecemasan si tikus setelah mengukur seberapa lama tikus-tikus tersebut mampu bertahan ketika 'dibekukan'.

Itulah mengapa semakin lama 'dibekukan' menunjukkan semakin besar tingkat kecemasan yang dialami si tikus. Sebagai perbandingan, beberapa tikus juga diukur tingkat kecemasannya tanpa dibikin stres sehari sebelumnya.

"Hasilnya, terlepas apakah tikus-tikus tersebut berlari dengan sendirinya atau dipaksa untuk berlari, ternyata mereka tetap terlindung dari stres dan kegelisahan," ungkap Greenwod seperti dilansir Health24, Selasa (30/4/2013). Hal ini diperkuat dengan temuan lain bahwa tikus yang sedenter terbukti 'dibekukan' dalam waktu yang jauh lebih lama daripada tikus aktif manapun dalam studi ini.

"Implikasinya, manusia yang merasa dipaksa untuk berolahraga, termasuk orang-orang yang merasa harus berolahraga hanya demi alasan kesehatan, mungkin masih memperoleh manfaat dari latihan ini, terutama mengurangi tingkat kecemasan dan depresi yang dialaminya," tutupnya.

Studi ini telah dipublikasikan dalam European Journal of Neuroscience.

(up/up)

Konsultasi Spesialis Anak (SpA)

RSAB Harapan Kita, Jl. Letjen S.Parman Kav.87, Slipi Jakarta Barat, DKI Jakarta Tel:+6221-5668284

Agnes Yunie Purwita Sari, Dr.,Sp.A

Konsultasi Spesialis Anak (SpA)

RS Persahabatan, Jl. RS Persahabatan Rawamangun Jakarta Timur, DKI Jakarta


View here

 

© Copyright Berita Terkini 2010 -2011 | Design by Herdiansyah Hamzah | Published by Borneo Templates | Powered by Blogger.com.