News Update :

Cari Blog Ini

Tampilkan postingan dengan label Inggris. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Inggris. Tampilkan semua postingan

Ternyata Jajanan di Sekolah di Inggris Sebabkan Obesitas pada Anak

Kamis, 09 Mei 2013 09.39

Jakarta - Obesitas banyak dialami anak-anak. Umumnya terjadi karena pola makan dan pemilihan jenis makanan yang salah. Seperti makanan manis dan berlemak. Jenis makanan ini banyak sekali dijual di sekolah dan sering dipilih anak-anak sebagai menu makan siang.

Menurut data survei berskala besar di Inggris, sekitar 25 persen dari anak laki-laki dan 33 persen anak perempuan berusia 19 tahun mengalami kegemukan atau obesitas. Angka menakjubkan ini diyakini karena penerapan pola makan yang salah.

Sayangnya para orang tua di Inggris tidak begitu khawatir pada anaknya meskipun mengalami obesitas. Bahkan mereka terlihat sangat biasa melihat tubuh anaknya yang gemuk dan tidak menyadari anaknya sudah mengalami obesitas.

Penelitian yang dilakukan oleh selebriti chef Amerika, Jamie Oliver menunjukkan bahwa pola makan di sekolah cenderung membuat anak-anak banyak mengonsumsi makanan manis, asin dan berlemak. Namun mereka hanya makan dua porsi buah dan sayuran dalam sehari.

Menurut sebuah survei di majalah Mother & Baby, pada tahun 2004 tercatat 9 dari 10 balita menyukai makanan junk food seperti cokelat, biskuit, keripik, cake dan chicken nugget. Mereka juga menyukai es krim dengan aneka varian.

Tentunya pola makan yang salah ini menjadi penyebab utama obesitas pada anak. Kebiasaan makan yang buruk ini juga susah dihilangkan hingga ia dewasa. Untuk mengatasi masalah ini, pemerintah Inggris-pun harus menyediakan dana sekitar 8,2 triliun rupiah tiap tahunnya. Dana sebanyak ini akan diberikan ke sekolah-sekolah di Inggris guna menyediakan menu makanan sehat untuk para siswa.

(odi/dyh)


Sumber Artikel

Aktor Inggris Klaim Dirinya Ayah Anak-anak Michael Jackson

Senin, 06 Mei 2013 08.37

Jakarta - Kehidupan Michael Jackson sepertinya masih menyimpan banyak misteri. Baru-baru ini, seorang aktor asal Inggris, Mark Lester yang merupakan teman Michael mengklaim bahwa dirinya adalah ayah dari Prince, Paris dan Blanket.

Seperti dilansir Mirror, Senin (6/5/2013), Mark mengungkapkan bahwa dirinya mendonasikan sperma kepada Michael pada 1995. Dua tahun kemudian, pelantun 'Heal The World' itu mengumumkan kelahiran Prince.

"Waktu Michael minta bantuanku. Awalnya, saya pikir ia minta saya untuk melakukannya dengan mantan istrinya Debbie Rowe, tapi tidak seperti itu. Satu tahun kemudian, ia minta saya menyumbangkan sperma dan saya pun setuju," ujar Mark.

Mark juga mengatakan, dirinya menyumbangkan sperma beberapa kali di sebuah klinik di London, Inggris. Tapi saat itu ia sempat berpikir bahwa Michael tidak menggunakan sperma miliknya karena ia tidak pernah menghubunginya lagi.

"Itu adalah permintaan benar-benar aneh, tapi saat Michael masih hidup saya tidak pernah berpikir lain. Aku menyumbangkan tidak untuk mendapatkan sesuatu dari itu," tutur Mark.

Mark yang kini berusia 50 tahun, pun siap untuk melakukan tes DNA untuk membuktikannya. Namun, ia tidak memaksakan hal itu.

Benarkah Prince, Paris dan Blanket adalah anak Mark? Sampai saat ini pihak keluarga Jackson belum juga berkomentar.

Mark adalah mantan aktor cilik yang cukup populer di Inggris. Ia adalah pemeran Oliver Twist dalam film musikal 'Oliver' yang rilis pada 1968.

(hkm/hkm)


View the original article here

Sebagian Anak Inggris Tak Bisa Bedakan Selada dan Bayam

Jumat, 03 Mei 2013 02.08

YANGINI BASO IKANVINISITepung EbiTokusil FC-LTokusil FC-HTokusil FCMakanan Ringan, Bakery dan Bahan RotiJakarta - Sebagian anak-anak di Inggris ternyata tidak bisa bedakan jenis sayuran. Saat dites, mereka salah menyebut nama buah dan sayuran. Padahal, mengenali makanan sejak kecil dapat membantu makan dengan sehat saat dewasa.

Sebagai bagian dari studi terkait efek belajar memasak ketika belia, Children’s Food Trust melakukan survei terhadap anak-anak di bawah usia 16 tahun. Hasilnya, setengah dari anak-anak yang diteliti tak bisa membedakan mentimun dan zucchini.

Selain itu, 7% dari mereka salah mengira bayam sebagai selada. Bahkan, hanya satu dari lima orang anak yang tahu seperti apa bentuk alpukat. Satu dari empat anak tak mengenali terung, sementara hanya 10% anak yang bisa mengidentifikasi leek (sayuran mirip daun bawang besar).

Dari penelitian ini, ditemukan bahwa mereka yang akrab dengan dapur sebelum usia delapan tahun 50% cenderung memiliki pola makan sehat. Mereka juga kelak memasak lima hidangan seminggu dari bahan-bahan segar.

Sayangnya, menurut Daily Mail (30/04/13), anak-anak di Inggris baru diajari keterampilan kuliner pada usia sembilan tahun. Padahal, di Prancis dan Jerman, anak-anak usia tujuh tahun sudah diperkenalkan dengan dunia memasak.

"Tak akan pernah ada waktu kritis untuk fokus mengajak anak memasak. Penting sekali membekali generasi mendatang dengan keterampilan dan pengetahuan agar mereka memilih makanan bernutrisi. Hal ini bisa dimulai dengan mengajak mereka memasak," ujar Rob Rees dari Children's Food Trust.

(odi/fit)


Sumber Artikel

MasterChef Inggris Dikecam Karena Dinilai Kurang Higienis

Senin, 29 April 2013 11.49

Jakarta - Tayangan memasak seharusnya membangkitkan selera makan para penonton. Tapi, MasterChef Inggris mendapatkan kecaman keras dari para penonton karena rendahnya standar kebersihan proses memasak para kontestannya.

Jajaran pimpinan progran MasterChef Inggris dikritik oleh para penonton karena membiarkan para kontestan tidak mematuhi standar kebersihan pada tayangan acara tersebut. Program acara yang ditayangkan di BBC1 dan dipandu oleh John Torode dan Gregg Wallace ini dikatakan membuat jijik para penonton karena kebiasaan jorok para kontestan.

Dalam satu episode, penonton melihat keringat-keringat para kontestan menetes ke dalam saus. Sementara episode lainnya terlihat salah satu konstestan wanita membiarkan rambut panjangnya tergerai diatas hidangan lamb tagine kreasinya.

Selain itu, tayangan dianggap menjijikkan adalah saat salah satu kontestan menggunakan perhiasan dan cat kuku saat memasak di dapur yang bisa memicu kontaminasi dalam hidangan yang disajikan. Penonton telah memposting keluhan di papan pesan BBC tentang standar kebersihan dalam program acara tersebut.

“Cincin, cat kuku di jari tangan dan rambut berminyak yang jatuh ke makanan sangat tidak sedap dipandang dan seringkali saya bertanya bagaimana Gregg dan John bisa mengkonsumsi hidangan tersebut setelah melihat proses pemasakan dari kontestan. Menjijikan!,” tulis salah satu penonton.

Talenan sebagai salah satu sarang kuman juga tidak diperhatikan cara pemakaiannya. Penggunaan talenan dengan warna berbeda dilakukan untuk mencegah kontaminasi antar bahan makanan. Satu penonton men-twit: Apakah #masterchef mengetahui hukum kesehatan lingkungan? Rambut harus benar-benar ditutupi di dapur dan ada alasan mengapa talenan dibuat dengan warna berbeda'

Tapi, hal ini langsung disanggah oleh pihak MasterChef. “Saat kami mengambil gambar di dapur profesional, kami selalu mengikuti pedoman kesehatan restoran. Kontestan yang mempunyai rambut panjang harus mengikat rambutnya karena mereka memasak untuk publik, kami tidak memaksakan memakai topi atau hairnet, tapi kebersihan adalah masalah penting untuk kami,” tutur juru bicara MasterChef kepada Daily Mail (29/04/2013).

(odi/flo)


Sumber Artikel

Keju Tradisional Inggris, Blue Stilton Terancam Punah

Minggu, 28 April 2013 00.44

Jakarta - Blue Stilton, salah satu keju ternama dari Inggris terancam punah. Popularitas keju yang sudah dibuat hampir 300 tahun yang lalu ini semakin menurun dan makin jarang dikonsumsi. Padahal, permintaan dari mancanegara masih tinggi.

Blue Stilton pertama kali diproduksi pada tahun 1730 dan nama Stilton merujuk pada nama desa di Inggris tempat keju ini pertama kali diproduksi. Jamur kebiruan yang tumbuh di keju ini memberikan aroma asam khas dan tekstur keju yang creamy.

Karena dipandang terhormat, Blue Stilton merupakan satu-satunya varian keju Inggris yang dilindungi hak paten. Stilton hanya boleh dibuat dari susu sapi pasteurisasi di Derbyshire, Nottinghamshire dan Leicestershire.

Para ahli industri keju mengatakan bahwa pembeli Blue Stilton di bawah umur 45 tahun telah menurun drastis hingga 18 persen dalam jangka waktu dua tahun. Konsumsi oleh konsumen dibawah 30 tahun telah merosot 23 persen. Hanya sedikit orang dari kelompok umur di bawah 25 tahun yang menyatakan mereka akan mempertimbangkan untuk membeli keju tersebut secara reguler.

Ahli keju memperingatkan jika trend ini terus berlanjut maka Blue Stilton yang telah diproduksi di Inggris selama hampir 300 tahun hanya akan tersedia untuk mancanegara. Saat ini The Co-operative Inggris membuat sebuah gerakan bernama SOS - Save Our Stilton untuk menyelamatkan karakteristik Blue Stilton yang unik.

“Keju ini adalah bagian dari sejarah Inggris. Kami tidak mungkin hanya berdiam diri dan membiarkannya punah karena orang yang menyukai keju ini semakin bertambah tua,” tutur Mark Cloudy selaku pembeli keju Co-operative kepada Daily Mail (26/04/2013).

Ia menambahkan saat ini banyak anak muda yang menghindari konsumsi keju ini karena jamur di permukaan keju yang dianggap tidak menarik. Ironisnya, walaupun popularitas menurun di Inggris, keju ini dianggap mewah di Eropa dan Amerika. Para penggemar Blue Stilton berani merogoh kocek £30 atau sekitar Rp 450.000 per kilogram, tiga kali lipat dari harga jual di Inggris.

The Co-operative, yang secara aktif mendukung produsen keju Inggris memanggil beberapa selebriti chef untuk bergabung dalam kampanye mereka. Chef ternama seperti Jamie Oliver dan Heston Blumenthal juga akan membuat resep menggunakan keju Stilton.

(odi/flo)


Sumber Artikel

 

© Copyright Berita Terkini 2010 -2011 | Design by Herdiansyah Hamzah | Published by Borneo Templates | Powered by Blogger.com.